Exposure Assessment

 

PARAMITHA YUNIZAR SARI

1206216342

 

 

                                                    Timbal (Pb)

timbal-300x240

Nama kimia Timbal
Nama Formula Pb
Titik Leleh 327.43°C (621.4°F)
Titik Didih 465 0 C
Kelarutan dalam Air 3.7% pada suhu 20 0 C
Berat Molekul 207.21 g/mol
Wujud Serbuk Kristal
No Atom 82
No Massa 207,20

 

  • Kelompok Beresiko Tinggi Terpapar oleh Timbal (Pb)

Pencemaran udara merupakan permasalahan yang rumit, karena menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan karakteristik fisik, sumber emisi zat pencemar (macam sumber, laju pencemaran, kecepatan dan tinggi emisi, elemen iklim yang mempengaruhi penyebaran zat pencemar di lokasi di mana zat pencemar diemisikan maupun kondisi iklim lokal di daerah penerima pencemaran udara). Udara sebagai salah satu sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, merupakan kebutuhan utama bagi manusia, hewan dan tanaman dalam mempertahankan hidupnya.

Polusi udara dapat disebabkan oleh aktivitas manusia yaitu antara lain oleh industri, alat transportasi, power plant, aktivitas rumah tangga dan perkantoran. Diantara sumber polutan tersebut kendaraan bermotor merupakan sumber polutan terbesar, dimana pada kota besar 98 % polutan udara berasal dari kendaraan bermotor. Dimana salah satu unsur yang dihasilkan dari pembakaran bensinyaitu timbal (Pb). Bahan bakar kendaraan bermotor di Indonesia sampai saat ini nyaris semua masih mengandung konsentrasi timbal yang lebih tinggi dari ukuran minimum internasional.

Pengguna kendaraan bermotor dan pengguna jalan raya merupakan kelompok yang beresiko tinggi dan lebih sering terpapar timbal yang keluar melalui knalpot dalam bentuk partikel yang sangat halus.Paparan lebih sering terjadi pada pukul 07.00 WIB dan 17.00 WIB, dimana pada waktu itu jalan raya sedang “ hiruk pikuk ” dengan jam masuk kantor atau keluar kantor (waktu produktif). Lebih kurang 90 % partikel timbal dalam asap atau debu halus di udara dihisap melalui saluran pernafasan. Penyerapan di usus mencapai 5 ± 15 % pada orang dewasa. Pada anakanak lebih tinggi yaitu 40 % dan akan menjadi lebih tinggi lagi apabila si anak kekurangan kalsium, zat besi dan zinc dalam tubuhnya. Laporan yang dikeluarkan Poison Center Amerika Serikat menyatakan anak-anak merupakan korban utama ketoksikan timbal; dengan 49 % dari kasus yang dilaporkan terjadi pada anak-anak berusia kurang dari 6 tahun. Kadar normal yang diperbolehkan adalah 0,003 mg/100 cc darah. Jika kadarnya lebih dari 0,10 mg/100 cc, maka dapat menyebabkan keracunan.

Menurut Environment Project Agency, sekitar 25% Pb tetap berada dalam mesin dan 75% lainnya akan mencemari udara sebagai asap knalpot. Emisi Pb dari gas buangan tetap akan menimbulkan pencemaran udara dimanapun kendaraan itu berada, tahapannya adalah sebagai berikut: sebanyak 10% akan mencemari lokasi dalam radius kurang dari 100 m, 5% akan mencemari lokasi dalam radius 20 Km, dan 35% lainnya terbawa atmosfer dalam jarak yang cukup jauh.Menurut spesifikasi resmi Ditjen Migas, kandungan maksimum timbal dalam bahan bakar yang diizinkan adalah 0,45 gram perliter. Sementara, menurut ukuran internasional, ambang batas maksimum kandungan timbal adalah 0,15 gram per liter. Timbal, atau Tetra Etil Lead (TEL) yang banyak pada bahan bakar terutama bensin, diketahui bisa menjadi racun yang merusak sistem pernapasan, sistem saraf, serta meracuni darah.

  • Proses Timbal Mencemari Udara

Penggunaan timbal dalam bahan bakar semula tak lain tak bukan adalah untuk meningkatkan oktan bahan bakar. Penambahan kandungan timbal dalam bahan bakar, dilakukan sejak sekitar tahun 1920-an oleh kalangan kilang minyak. Timbal (Pb) dicampurkan ke dalam bensin sebagai anti letup atau anti knock aditif dengan kadar sekitar 2,4 gram/gallon. Timbal (Pb) yang digunakan untuk anti knock adalah tetraethyl timbal (C2H5)4.. Tetra Etil Lead (TEL), selain meningkatkan oktan, juga dipercaya berfungsi sebagai pelumas dudukan katup mobil (produksi di bawah tahun 90-an), sehingga katup terjaga dari keausan, lebih awet, dan tahan lama. Penggunaan timbal dalam bensin lebih disebabkan oleh keyakinan bahwa tingkat sensitivitas timbal tinggi dalam menaikkan angka oktan. Setiap 0,1 gram timbal perliter bensin, menurut ahli tersebut mampu menaikkan angka oktan 1,5 samapai 2 satuan. Selain itu, harga timbal relatif murah untuk meningkatkan satu oktan dibandingkan dengan senyawa lainnya. Penggunaan timbal juga dapat menekan kebutuhan senyawa aromatik, sehingga proses produksi relatif lebih murah dibandingkan memproduksi bansin tanpa timbal..

Bensin ”Premium” yang digunakan di Indonesia saat ini berangka oktan 88 dengan kandungan timbal maksimum 0,45 gram per liter. Sedangkan ”Premix” berangka oktan 94, yang merupakan campuran Premium serta 15 persen Methyl Tertiery Butil Ether (MTBE). Kandungan timbal Premix maupun Premium sama. Unsur timbal menjadi unsur yang terlepas bebas di udara karena mesin kendaraan yang tidak sempurna dalam proses pembuangannya.

Pada proses pembakaran mesin, senyawa ini dilepaskan dalam bentuk partikel melalui asap gas buang kendaraan bermotor ke udara, dimana sebagian besar mengandung partikel Pb berdiameter dibawah 1 mikron. Besarnya ukuran partikel tersebut merupakan batas ukuran partikel yang dapat diserap melalui pernafasan.

Pada proses pembakaran mesin yang menggunakan bahan bakar bensin, dihasilkan gugus radikal bebas yang dapat menyebabkan letupan pada mesin, sehingga mengakibatkan menurunnya efisiensi mesin. Untuk mengatasi hal tersebut ditambahkan bahan berupa TEL atau TML. Tujuannya adalah untuk mengikat radikal bebas yang terbentuk selama proses pembakaran.

Bahan tersebut akan bereaksi dengan gugus radikal bebas, dan menghalangi terjadinya reaksi pembentukan PbO. Pb dalam bensin akan bereaksi dengan oksigen dan bahan-bahan pengikat, selanjutnya dikeluarkan melalui system pembuangan dalam bentuk partikel. Partikel yang mengandung Pb akan diemisikan ke dalam lingkungan, sehingga menyebabkan terjadinya pencemaran udara oleh Pb (Kumar, De, 1979).

Melalui buangan mesin kendaraan tersebut unsur Pb terlepas ke udara. Sebagian di antaranya akan membentuk partikulat di udara bebas dengan unsur–unsur lain, sedangkan sebagian lainnya akan menempel dan diserap oleh daun tumbuh – tumbuhan yang ada di sepanjang jalan.

 

  • Bahaya Timbal terhadap kesehatan kelompok yang terpapar

Paparan bahan tercemar timbal (Pb) dapat menyebabkan gangguan sebagai berikut :

 

  1.     Gangguan Neurologi

Gangguan neurologi (susunan syaraf) akibat tercemar oleh timbal (Pb) dapat berupa encephalopathy, ataxia, stupor dan coma. Pada anak-anak dapat menimbulkan kejang tubuh dan neuropathy perifer.

  1.     Gangguan terhadap fungsi ginjal.

Logam berat timbal (Pb) dapat menyebabkan tidak berfungsinya tubulus renal, nephropati irreversible, sclerosis vaskuler, sel tubulus atropi, fibrosis dan sclerosis glumerolus. Akibatnya dapat menimbulkan aminoaciduria dan glukosuria, dan jika paparannya terus berlanjut dapat terjadi nefritis kronis.

  1.     Gangguan terhadap sistem reproduksi.

Logam berat timbal (Pb) dapat menyebabkan gangguan pada sistem reproduksi berupa keguguran, kesakitan dan kematian janin. Logam berat timbal (Pb) mempunyai efek racun terhadap gamet dan dapat menyebabkan cacat kromosom. Anak -anak sangat peka terhadap paparan timbal (Pb) di udara. Paparan timbal (Pb) dengan kadar yang rendah yang berlangsung cukup lama dapat menurunkan IQ.

  1.     Gangguan terhadap sistem hemopoitik.

Keracunan timbal (Pb) dapat dapat menyebabkan terjadinya anemia akibat penurunan sintesis globin walaupun tak tampak adanya penurunan kadar zat besi dalam serum. Anemia ringan yang terjadi disertai dengan sedikit peningkatan kadar ALA (Amino Levulinic Acid) urine. Pada anak–anak juga terjadi peningkatan ALA dalam darah. Efek dominan dari keracunan timbal (Pb) pada sistem hemopoitik adalah peningkatan ekskresi ALA dan CP (Coproporphyrine). Dapat dikatakan bahwa gejala anemia merupakan gejala dini dari keracunan timbal (Pb) pada manusia. Dibandingkan dengan orang dewasa, anak -anak lebih sensitif terhadap terjadinya anemia akibat paparan timbal (Pb). Terdapat korelasi negatif yang signifikan antara Hb dan kadar timbal (Pb) di dalam darah.

 

  1.     Gangguan terhadap sistem syaraf.

Efek pencemaran timbal (Pb) terhadap kerja otak lebih sensitif pada anak-anak dibandingkan pada orang dewas. Gambaran klinis yang timbul adalah rasa malas, gampang tersinggung, sakit kepala, tremor, halusinasi, gampang lupa, sukar konsentrasi dan menurunnya kecerdasan pada anak dengan kadar timbal (Pb) darah sebesar 40-80 μg/100 ml dapat timbul gejala gangguan hematologis, namun belum tampak adanya gejala lead encephalopathy. Gejala yang timbul pada lead encephalopathy antara lain adalah rasa cangung, mudah tersinggung, dan penurunan pembentukan konsep. Apabila pada masa bayi sudah mulai terpapar oleh timbal (Pb), maka pengaruhnya pada profil psikologis dan penampilan pendidikannya akan tampak pada umur sekitar 5-15 tahun. Akan timbul gejala tidak spesifik berupa hiperaktifitas atau gangguan psikologis jika terpapar timbal (Pb) pada anak berusia 21 bulan sampai 18 tahun (Sudarmaji, dkk, 2006).

 

  • Upaya Penanggulangan Pencemaran oleh Pb

Untuk mengendalikan pencemaran Pb tersebut dapat dilakukan melalui pendekatan teknis yaitu dengan mengupayakan pembakaran sempurna dan mencari bahan bakar alternatif. Pemerintah mempunyai posisi yang strategis untuk melakukan pendekatan planatologi, administrasi dan hukum. Sedangkan untuk meningkatkan kedisiplinan perawatan dan cara pengemudian yang baik dan benar dapat dilakukan melalui pendekatan edukatif.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

HAZARD IDENTIFICATION EVALUATIONS

Paramitha Yunizar Sari

1206216342

       Arsen Trioksida

  1. Nama Umum : Arsen Trioksida
  2. Rumus Empiris : As2O3
  3. Struktur Kimia :

 

 arsen

  1. Berat Molekul : 197.84

 

Hazard Identification

           Agent of Interest Determination

–         Mencakup data sifat fisika-kimiawi dari senyawa Arsen Trioksida

Densitas 3.738
Titik Leleh 312 0 C
Titik Didih 4650 C
Kelarutan dalam Air 3.7% pada suhu 20 0 C
Tekanan Uap 66 mm Hg pada suhu 312 0 C
Wujud Serbuk Kristal

 

Arsen di alam berada dalam bentuk Inorganik dan organic. Arsen inorganik dapat larut dalam air atau berbentuk gas dan dapat terpapar pada manusia. trioksida (As2O3) bentuk arsen inorganik berbahaya bagi kesehatan manusia. Pada suhu di atas 1.073°C senyawa arsen trioksida dapat dihasilkan dari hasil samping produksi tembaga dan pembakaran batubara. Arsen trioksida mempunyai titik didih 465°C dan akan menyublim pada suhu lebih rendah. Kelarutan arsen trioksida dalam air rendah, kira-kira 2% pada suhu 25°C dan 8,2% pada suhu 98°C. Sedikit larut dalam asam membentuk asam arsenide (H3As03). Arsen trioksida sangat cepat larut dalam asam khlorida dan alkalis (Durrant & Durrant, 1966; Carapella, 1973).

Arsen anorganik seperti arsen trioksida sukar larut di air, tetapi lebih mudah larut dalam lemak.As203termasuk ke dalam arsenik anorganik, sempat populer sebagai bahan cat, namun karena toksik akhirnya tidak dipakai lagi.As2O3 (asen tri-oksida)., karena  menyebabkan efek racun pada protoplasma sel tubuh manusia. Racun arsen yang masuk ke dalam saluran cerna akan diserap secara sempurna di dalam usus dan masuk ke aliran darah dan disebar ke seluruh organ tubuh.

 

            Adverse Effect

–         data-kajian toksikologi :

 Exposure

           

Total rata – rata konsentrasi arsenik di udara di daerah-daerah terpencil dan pedesaan berkisar 0,02-4 ng/m3. Total rata – rata konsentrasi arsenik di daerah perkotaan berkisar antara 3 sampai sekitar 200 ng/m3, konsentrasi yang lebih tinggi (> 1000 ng/m3) telah diukur di sekitar sumber-sumber industri. Konsentrasi arsenik dalam air laut terbuka laut biasanya 1-2 mg / liter. Arsenik tersebar luas di freshwaters dan konsentrasi di sungai dan danau umumnya di bawah 10 mg / liter. Kadar arsenik dalam air tanah rata-rata sekitar 1-2 mg / liter, kecuali di daerah dengan batuan dan mineral sulfida vulkanik di mana kadar arsenik dapat berkisar hingga 3 mg / liter. Konsentrasi latar belakang dalam rentang tanah 1-40 mg / kg, dengan nilai rata-rata sering sekitar 5 mg / kg.

Paparan Arsenik bagi para non-kerja berasal dari mengkonsumsi makanan dan air. Dari jumlah tersebut, makanan umumnya kontributor utama terhadap asupan harian total arsenik. Di beberapa daerah arsenik dalam air minum merupakan sumber signifikan dari paparan arsen anorganik. Dalam kasus ini, arsenik dalam air minum sering merupakan kontributor utama terhadap asupan arsen harian. Tanah yang terkontaminasi seperti tailing tambang juga merupakan sumber potensial paparan arsenik. Asupan harian total arsenik dari makanan dan minuman umumnya antara 20 dan 300 mg / hari. Bahan pangan seperti daging, unggas, produk susu dan sereal memiliki tingkat yang lebih tinggi mengandung arsen trioksida. Paparan terhadap paru-paru dapat terkontribusi sampai kira-kira 10 mg / hari pada perokok dan sekitar 1 mg / hari dalam non-perokok, dan lebih banyak di daerah-daerah yang tercemar. Konsentrasi metabolit arsenik anorganik dalam urin (arsen anorganik, MMA dan DMA) mencerminkan dosis arsenik anorganik yang diserap oleh individu. Secara umum, itu berkisar dari 5 sampai 20 mg Sebagai / liter, tapi bahkan dapat melebihi 1000 mg / liter.

Adverse Human Health Effect

Carsinogenic / Non-Carsinogenic Effect

Arsenik anorganik contohnya seperti arsen trioksida sangat akut beracun, dan jika dalam dosis besar menyebabkan gejala gastrointestinal, gangguan fungsi sistem kardiovaskular dan saraf, dan akhirnya kematian. Menurut National Institute for Occupational Safety and Health (1975), arsen inorganik dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan kronis, terutama kanker (www.bluefame.com, 2009). Eksposur jangka panjang untuk arsenik dalam air minum berkaitan dengan peningkatan risiko kanker pada kulit, paru-paru, kandung kemih dan ginjal, serta perubahan kulit lainnya seperti hiperkeratosis dan pigmentasi perubahan. Apabila terpapar dengan dosis rendah akan mengakibatkan kerusakan jaringan. Bila melalui mulut, pada umumnya efek yang timbul adalah iritasi saluran makanan, nyeri, mual, muntah dan diare. Efek ini telah dibuktikan dalam banyak penelitian menggunakan desain studi yang berbeda. WHO menetapkan ambang aman tertinggi arsen dalam air tanah sebesar 50 ppb. Air tanah biasa digunakan sebagai sumber air minum bagi kelangsungan hidup manusia. Salah satu akibat yang merugikan dari arsen adalah apabila dalam air minum mengandung unsur arsen melebihi nilai ambang batas, yaitu bila kadarnya melebihi 100 ppb dalam air minum. Gejala keracunan kronis yang ditimbulkannya pada tubuh manusia berupa iritasi usus, kerusakan syaraf dan sel, kelainan kulit atau melanoma serta kanker usus.

Hubungan Exposure-respon dan risiko tinggi telah diamati untuk masing-masing titik akhir. Efek ini telah dipelajari hampir diseluruh Taiwan tetapi ada bukti yang cukup pula tentang studi ini pada populasi di negara-negara lain. Peningkatan risiko kanker paru-paru dan kandung kemih dan penyakit kulit akibat arsenik telah dilaporkan terkait dengan konsumsi air minum pada konsentrasi £ 50 mg arsen / liter.

Paparan arsenik terutama jika terhirup, berkaitan dengan kanker paru-paru. Hubungan Exposure-respon dan risiko tinggi telah diamati. Peningkatan risiko telah diamati pada tingkat paparan kumulatif ³ 0,75 (mg/m3) × tahun (misalnya 15 tahun terkena konsentrasi udara ruang kerja sebesar 50 g/m3). Merokok tembakau telah diteliti dalam dua dari tiga kohort smelter utama dan tidak ditemukan menjadi penyebab peningkatan risiko kanker paru-paru dikaitkan dengan arsenik, namun ditemukan interaktif dengan arsenik dalam meningkatkan risiko kanker paru-paru.

Paparan arsenik kronis di Taiwan telah terbukti menyebabkan penyakit blackfoot (BFD), bentuk parah dari penyakit pembuluh darah perifer (PVD) yang menyebabkan perubahan gangren. Penyakit ini belum didokumentasikan di bagian lain dunia, dan temuan di Taiwan mungkin tergantung pada faktor-faktor lain yang memberikan kontribusi. Namun, ada bukti yang baik dari studi di beberapa negara bahwa paparan arsenik menyebabkan bentuk lain dari PVD.

Animal Toxicological Test & in-vitro Studies

Arsenik anorganik seperti halnya arsen trioksida ( As2O3) dapat menyebabkan efek buruk pada hewan saat diuji di laboratorium. Efek yang disebabkan oleh arsen trioksida salah satunya efek kronis seperti kanker. Tingkat toksisitas arsenik pada dasarnya tergantung pada bentuk (misalnya organik atau anorganik) dan keadaan oksidasi arsenik tersebut. Hal ini umumnya dianggap bahwa arsenik anorganik lebih beracun dari arsenick organik, bentuk-bentuk trivalen lebih beracun daripada bentuk-bentuk pentavalent, setidaknya pada dosis tinggi. Beberapa sistem organ yang berbeda dipengaruhi oleh arsenik, termasuk kulit, pernapasan, kardiovaskuler, kekebalan tubuh, genitourinary, reproduksi, pencernaan dan sistem saraf.

Beberapa penelitian karsinogenisitas pada hewan arsenik telah dilakukan, namun keterbatasan seperti tingkat dosis tinggi, waktu yang terbatas paparan dan sejumlah hewan membuat ini tidak meyakinkan. Namun, model hewan baru-baru ini dilaporkan dapat menjadi alat yang berguna untuk studi karsinogenisitas masa depan. Dalam penelitian tersebut, tikus betina C57B1/6J terkena arsenik dalam air minum yang mengandung 500 mg As (V) / liter lebih dari 2 tahun dikaitkan dengan peningkatan kejadian pada tumor yang melibatkan terutama paru-paru, hati, saluran pencernaan dan kulit. Arsen anorganik tidak menyebabkan mutasi. Namun, arsenik dapat menghasilkan penyimpangan kromosom in vitro, mempengaruhi metilasi dan perbaikan DNA, menginduksi proliferasi sel, mengubah sel dan memicu adanya tumor. Satu studi telah menunjukkan bahwa DMA dapat menyebabkan kanker kandung kemih pada tikus jantan pada dosis yang tinggi.
Enviromental Toxicology

Biota perairan dan terestrial menunjukkan berbagai kepekaan spesies arsenik yang berbeda. Sensitivitas mereka dimodifikasi oleh faktor biologis dan abiotik. Secara umum, arsenik anorganik lebih beracun dari organoarsenicals dan arsenit yang lebih beracun dari arsenat. Pendekatan toksisitas dan mekanisme penyerapan arsenat oleh organisme sangat berbeda. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa ada perbedaan antarspesies dalam menanggapi organisme untuk arsenat dan arsenit. Arsenat diketahui mempengaruhi fosforilasi oksidatif oleh persaingan dengan fosfat. Dalam lingkungan di mana konsentrasi fosfat yang tinggi, toksisitas arsenat untuk biota umumnya berkurang. Sehingga organisme yang hidup di lingkungan arsenat tinggi harus memperoleh fosfor gizi namun menghindari toksisitas arsenik.

Critical Effect

Paparan arsenik terutama jika terhirup, berkaitan dengan kanker paru-paru.Menurut National Institute for Occupational Safety and Health (1975), arsen inorganik dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan kronis, terutama kanker. Apabila terpapar dengan dosis rendah akan mengakibatkan kerusakan jaringan. Bila melalui mulut, pada umumnya efek yang timbul adalah iritasi saluran makanan, nyeri, mual, muntah dan diare. Organ yang biasanya terserang adalah paru-paru, kulit dan ginjal dan kandung kemih.

 

Referensi        

 

(Diakses pada Rabu 26 Februari 2014 pukul 20.00)

(Diakses pada Rabu 26 Februari 2014 pukul 20.15)

(Diakses pada Kamis 27 Februari 2014 pukul 16.45)

(Diakses pada Kamis 27 Februari 2014 pukul 18.30)

(Diakses pada Kamis 27 Februari 2014 pukul 20.00)

Risk Assessment concept

Paramitha Yunizar Sari

1206216342

Hazard umumnya didefinisikan sebagai “potensi untuk menyebabkan kerusakan”. Bahaya dapat didefinisikan sebagai “properti atau situasi yang secara khusus keadaan dapat menyebabkan bahaya” (Royal Society, 1992). Risiko merupakan konsep yang lebih sulit untuk didefinisikan. Risiko jangka digunakan dalam bahasa sehari-hari berarti “kemungkinan bencana”. Ketika digunakan dalam proses penilaian risiko memiliki definisi khusus, yang paling umum diterima sebagai “Kombinasi dari probabilitas atau frekuensi, terjadinya bahaya pasti dan besarnya konsekuensi dari terjadinya” (RoyalSociety, 1992).

Perbedaan antara bahaya dan risiko dapat dibuat lebih jelas dengan menggunakan contoh sederhana. Sejumlah besar bahan kimia memiliki sifat berbahaya. Asam bersifat korosif atau iritasi bagi manusia misalnya. Asam yang sama hanya risiko bagi kesehatan manusia jika manusia terkena itu. Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh paparan akan tergantung pada paparan tertentu. Jika manusia hanya kontak sekali dengan asam yang telah banyak diencerkan, risiko bahaya akan minimal tapi properti berbahaya bahan kimia akan tetap tidak berubah.

Penilaian risiko adalah prosedur di mana risiko yang ditimbulkan oleh bahaya yang melekat terlibat dalam proses atau situasi diestimasi baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Dalam siklus hidup bahan kimia misalnya, risiko dapat timbul selama manufaktur, distribusi, penggunan, atau proses pembuangan. Penilaian risiko bahan kimia melibatkan identifikasi bahaya yang melekat pada setiap tahap dan estimasi risiko yang ditimbulkan oleh bahaya ini. Risiko diperkirakan dengan memperhatikan ukuran kemungkinan bahaya yang benar-benar menyebabkan kerugian dan ukuran keparahan bahaya terhadap orang-orang atau lingkungan.

Penilaian risiko bervariasi dalam lingkup dan aplikasinya. Ada yang menilai risiko tunggal dalam berbagai paparan. Dalam arti luas penilaian risiko dilakukan untuk memeriksa efek dari “agen” kepada manusia (Health Risk Assessment) dan ekosistem (Ecological Risk Assessment). Namun tidak ada keselamatan yang mutlak.Penilaian risiko kesehatan manusia, penilaian risiko ekologi atau ekotoksikologi, dan aplikasi industri tertentu penilaian risiko yang meneliti hasilnya pada orang, biota atau ekositem. Dan Evaluasinya berdasarkan biaya manfaat dan analisis manfaat risiko. Risk assessment tidak berjalan sendirian, risk assessment berkaitan erat dengan risk management yang dimana hasil dari risk assessment akan menjadi input dari risk management dan akan dievaluasi dan dianalisis risikonya kemudian akan dikomunikasikan kepada publik (penerimaan publik).Risiko dapat dikelola dengan berbagai cara. Mereka dapat dihilangkan, ditransfer, ditahan atau dikurangi. Kegiatan pengurangan risiko mengurangi risiko ke “diterima” tingkat, berasal setelah mempertimbangkan pilihan faktor seperti kebijakan pemerintah, norma-norma industri, dan faktor-faktor ekonomi, sosial dan budaya