PENERAPAN SISTEM KESELAMATAN PASIF PADA REAKTOR NUKLIRSEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEAMANAN DAN PERCEPATAN PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR DI INDONESIA

Ringkasan :

Saat ini kebutuhan listrik dunia sebagian besar mulai dipenuhi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Indonesia tidak boleh sekedar menjadi penonton dari kemajuan bangsa-bangsa lain di dunia dalam pengelolaan energi tetapi juga harus mulai berbenah diri dalam menata masa depan bangsa, salah satunya dalam mengatasi krisis di sektor energi listrik. Namun dalam penerapan di lapangan, nuklir tidak akan pernah terlepas dari pro dan kontra diterimanya energi ini di lingkungan masyarakat, khususnya masyarakat awam di Indonesia. Mereka sudah terlanjur takut mendengar kata ‘nuklir’, yang terbenam di benak mereka adalah bahaya, bahaya dan bahayanya tanpa tahu lebih jauh manfaat dari energi nuklir dan sejauh mana sistem keamanan dan keselamatan diberlakukan untuk energi nuklir tersebut sehingga efek penghancuran dari energi nuklir lebih populer di kalangan masyarakat awam daripada manfaatnya.

Ketakutan masyarakat terhadap rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia ini semakin terlihat setelah beberapa rentetan kecelakaan yang tejadi dalam industri pembangkit listrik tenaga nuklir di dunia. Salah satu kecelakaan yang terjadi dalam dunia industri PLTN dunia adalah kecelakaan PLTN di Fukushima, Jepang tahun 2011 setelah gempa dan tsunami melanda negeri sakura itu, dimana salah satu generator untuk menjalankan pompa pendingin yang diperlukan untuk mengalirkan air pendingin sehingga teras reaktor tetap menjadi dingin tersebut mati. Akibatnya teras reaktor tidak dapat didinginkan dengan baik sehingga  uap air dan hidrogen yang dihasilkan dilepaskan dengan resiko hidrogen explosive, yang  mengakibatkan pengungkung reaktor tidak tahan dan terjadi ledakan.

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Indonesia banyak mengalami kendala selain terbentur oleh kurangnya sumber daya modal dikarenakan besarnya investasi awal pembangunan PLTN ini, masalah lainnya yaitu budaya takut atau belum berani menerima dan menerapkan energi nukklir dalam bidang energi listrik masih sangat terasa di Indonesia, khususnya masyarakat awam yang kurang mengerti apa manfaat yang baik dari pembangunan PLTN. Ketakutan ini dikarenakan ancaman bahaya yang jauh lebih besar yaitu masalah keselamatan dan keamanan dalam pembangunan dan pengoperasian PLTN.

Pada awalnya rancang bangun sistem keselamatan PLTN menerapkan konsep sistem keselamatan Berganda (difense in depth) . Dengan konsep ini, apabila ada kegagalan atau kecelakaan, maka sistem pertama segera menanggulanginya. Apabila sistem pertama gagal, sistem kedua segera mengantisipasinya, demikian  seterusnya. Namun karena pada desain desain dan sistem keselamatan ( sistem konvensional ) tersebut masih belum dapat memproteksi individu, lingkungan dan masyarakat maka pada sistem reaktor PLTN generasi baru maka digunakanlah sistem keselamatan pasif. Pada reaktor daya generasi keempat memiliki kemampuan keselamatan inheren, yaitu aspek keselamatan yang tak terganggu dengan kemungkinan human error, sabotase, kerusakan peralatan pengontrol, dll). Sistem ini mampu mengatasi persoalan limbah nuklir yang dihasilkannya atau membakar limbahnya sendiri. Dan secara biaya lebih ekonomis dibandingkan dengan sistem dari PLTN generasi sebelumnya. Terakhir deasin ini memiliki karakteristik non proliferasi, yaitu desain yang sulit disalahgunakan untuk kepentingan militer.

Pada hakikatnya kecelakaan tak bisa diberi nilai  mutlak, sehingga kejadian tersebut menjadi wajar dan lumrah. Batas kewajaran dalam teknologi inilah yang dapat ditentukan besar kecilnya kemungkinan peristiwa itu terjadi. Dengan demikian, secanggih apa pun teknologi buatan manusia, untuk menghilangkan kegagalan atau kecelakaan adalah tidak mungkin dilakukan. Yang dapat  dilakukan manusia adalah menekan kebolehjadian terjadinya kecelakaan seminimal mungkin. Kegagalan ataupun kecelakaan dalam teknologi adalah sifat hasil karya manusia, produk yang tak pernah sempurna. Dan dalam hal ini menerapkan sistem keselamatan pasif pada reaktor generasi baru dapat dilakukan di Indonesia dalam rencananya melakukan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) karena keunggulan keamanan dan tingkat keekonomisannya semoga dapat mempercepat terealisasinya pembangunan PLTN di Indonesia.

Namun hal yang paling utama juga ialah sosialisasi sistem ini ke masyarakat. Melalui media cetak, media elektronik, dan media edukasi lainnya serta dapat pula diadakan berbagai lomba penulisan makalah, artikel ilmiah, essay kritis dan sebagainya terkait dengan perkembangan energi nuklir dalam sektor energi listrik agar masyarakat awam tidak buta dengan perkembangan energi nuklir yang sedang terjadi sehingga nuklir tidak lagi dikenal sebagai sesuatu yang menakutkan serta masyarakat dan para investor yakin Pembangunan Pembangkit Listrik di Indonesia aman dan memilik prospek yang bagus dan baik.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s